29 May 2010

MENGAJI BERSAMA GUS DUR (1): PESANTREN DAN MASA DEPAN

Pengantar: 
Selain rubrik-rubrik "KENANGANKU DENGAN GUS DUR," dan "WAWANCARA IMAJINER DENGAN GUS DUR," kini rubrik MENGAJI DENGAN GUS DUR disajikan untuk para Gusdurians dan fbers umumnya. Rubrik ini dimaksudkan untuk mendiskusikan pemikiran dan gagasan Almaghfurlah Gus Dur (Karromallohu Wajhahu) yang terdapat dalam berbagai publikasi. Selamat mengaji bersama. Salam Gusdurians! 
===================================================== 


Pesantren sudah terlanjur menjadi sebuah lembaga yang kurang-lebih diidealkan sebagai tempat dan model pendidikan yang bukan saja betujuan meningkatkan pengetahuan (agama Islam), tetapi sekaligus membuat para murid (santri)nya peka terhadap permasalahan kemasyarakatan. Jika dipandang dari ajaran Al-Qur'an, maka pesantren adalah pengejawantahan dari "tafaqquh fid din" (memperdalam pemahaman keagamaan) dan"liyundziruu qoumahum idza roja'u ilaihim la'allakum yahdzaruun", (agar memberikan peringatan kepada mereka yang kembali dari peperangan agar mereka mendapat peringatan). Persoalannya adalah, bahwa pesantren dalam perjalanan sejarahnya mengalami pasang naik dan pasang surut yang membutuhkan perhatian serius apabila ia masih diharapkan tetap relevan dengan tantangan modernitas dan globalisasi yang terjadi.

Salah satu orientasi budaya (cultural orientation) kehidupan di dunia pesantren adalah apa yang disebut Gus Dur sebagai "orientasi serba fiqih". Menurut beliau, orientasi inilah yang menyebabkan warga pesantren memiliki kemandirian yang tinggi dan, secara historis, cenderung untuk "curiga' terhadap kekuasaan. Orientasi serba fiqih inilah yang membuat komunitas pesantren memiliki etos sosial (dan politis) untuk tidak tergantung pada patronase pejabat atau penguasa. Ketika orientasi budaya ini tergerus oleh modernitas melalui berbagai jalur (masuknya birokrasi pemerintahan, terserapnya para Kyai ke dalam lembaga-lembaga politik dan pemerintahan, dsb), maka norma-norma yang menjaga "tegaknya kerangka normatif kehidupan pesantren, mulai berkurang." Dengan demikian, kata almaghfurlah, permasalahan pokok yang dihadapi pesantren adalah: dapatkah orientasi budaya serba fiqih masih dapat dipertahankan di masa depan?

Tantangan untuk melestarikan dan mengembangkan orientasi budaya pesantren ini juga sangat relevan manakala kita menganggap bahwa komunitas pesantren adalah salah satu tiang penyangga masyarakat sipil (civil society) di negeri ini. Manakala orientasi ini luntur tergilas oleh etos modernitas yang serba duniawi, instant, dan konsumeristis, maka niscaya komunitas pesantren akan kehilangan jaridirinya dan otomatis civil society di negeri ini akan terpotong salah satu tiang penyangganya. Kemampuan NU menjadi salah satu motor penggerak reformasi dan demokratisasi pada akhir abad ke 20 jelas tidak akan bisa terulang apabila orientasi budaya pesantren tersebut tiada. Menjadi tugas para pengelola pesantren, khusunya para masyayikh dan santri-santrinya serta masyarakat di luar pesantren untuk bersinergi mempertahankan etos dan orientasi budaya tersebut, disamping membuat pesantren tidak mengisolasi diri dari perkembangan kehidupan modern.

Referensi: 

"Dari Masa Lalu ke Masa Depan," dalam Bisri Effendy (ed.). Abdurrahman Wahid: Tuhan Tidak perlu Dibela. Yogyakarta: LKIS, 1999, hal. 55-60.

selengkapnya >>>

16 May 2010

WAWANCARA IMAJINER DENGAN GUS DUR (7)

(Sayup-sayup terdengar suara dendang syair Abu Nawas ketika saya masuk ke ruang tempat Gus Dur berkhalwat. Ternyata benar, beliau sedang rengeng-rengeng melagukan syair kegemaran beliau:

Ilaahi Lastu lil Firdausi Ahla # Walaa Aqwaa 'Alan Naaril Jahiimi
Fahabli Taubatan Waghfir Dzunubi # Fainnaka Ghaafiru Dzambil 'Adziimi
Dzunubi mitslu A'dadir Rimaali # Wa Dzanbi Zaaidun Kaifakhtimaali
Wa Umrii Naaqishun fi Kulli Yaumin # Fahabli Taubatan Yaa Dzal Jalaali


(Ya Allah, aku sama sekali tak pantas menjadi penghuni syurga Firdaus, namun aku pun jelas tak akan kuat menjadi penghuni Neraka Jahim. Maka terimalah taubatku Ya Allah dan ampunilah semua dosaku, karena Engkau adalah Maha Pengampun dosa-dosa besar. Dosa-dosaku sebanyak jumlah pasir, Ya Allah, dan ia makin bertambah, lantas bagaimanakah aku dapat menanggungnya?. Ya Allah, umur kami berkurang setiap hari, maka terimalah taubat kami, wahai Dzat Yang Maha Agung!)

******

Saya menunggu sampai GD menyelesaikan bait terakhir, sebelum saya menyapa:

"Assalamu'alaikum, Gus" Ucap saya sambil bersalaman dan mencium tangan beliau

"Salaam... Eee Kang, piye waras tah sampean?" Sambut beliau seraya menyalami.

"Alhamdulillah, Gus, do'a njenengan, saya sehat-sehat saja.." Kata saya sambil duduk di hadapan beliau

"Kok sudah lama sampean gak ke sini, sibuk mengajar atau ngamen?, hehehe..." Tanya beliau sambil tertawa renyah.

"Kedua-duanya Gus, saya kebagian dua matakuliah semester kemarin. Jadi rada sibuk juga.

"Panjenegan sendiri bagaimana Gus, kok kelihatannya makin segar dan cemerlang saja, hahaha.." Saya gantian bertanya.

"Alhamdulillah, berkat doa sampean dan semua orang yang masih ingat sama saya, membuat saya makin dirahmati Allah swt."

"Wah, kalau soal ingat, Gus, sedunia ingat semua dan Insya Allah mayoritas mendoakan panjenengan, kok.."

"Amin.. kalau begitu. Ada kabar menarik apa Kang?" GD tanya sambil kakinya slonjor

"Wah ketiwasan,, Gus..!"

"Lho ketiwasan apa, sampean ini ngaget-ngageti saja.."

"Soal NU ini lho Gus, sekarang ini terjadi konflik di antara elitnya, gara-gara kepengurusan PBNU yang baru." Kata saya mencoba memberikan keterangan.

"Bukannya sudah sampean bilang ke saya, semuanya baik-baik saja?"

"Perasaan saya dulu ya begitu Gus, setelah mBah Sahal dan Gus Aqil terpilih di Makassar. Tapi ternyata malah terjadi keributan gara-gara Tim Formaturnya ada yang tidak terima dan protes. Sekarang persoalan menjalar karena Syaifullah Yusuf mengancam akan membekukan PWNU Jatim. Sayangnya Gus Aqil malah mengamini "ancaman" itu..."

"Lha itu gimana asal-usulnya kok bisa ada protes dari PWNU Jatim segala. Kang?"

"Kalau menurut berita di media dan juga majalah AULA terbitan PWNU Jatim, masalahnya bermula karena ada perbedaan antara susunan pengurus yang disepakati di rapat Tim Formatur di Kajen dengan yang diumumkan oleh mBah Sahal dan Gus Aqil di Jakarta. Gus Hasyim Muzadi dan Slamet Efendi Yusuf yang semula dipasang sebagai Wakil Rois Aam dan Waketum PBNU tidak lagi muncul namanya dalam susunan baru. Demikian juga kehadiran Pak As'at Ali sebagai Waketum PBNU tampaknya juga dipermasalahkan karena dianggap tidak memenuhi syarat yang tertuang dalam ART NU dan Keputusan Komisi Organisasi dalam Muktamar kemarin. Sudah begitu, ada masalah rangkap jabatan seperti Ipul dianggap melanggar AD/ART.."

"Ah.. Kang, kan sudah saya bilang, itu semua akan muncul kalau pemimpin tidak tegas dan hanya mikir dirinya sendiri-sendiri..." Gus Dur memotong penjelasan saya, dengan nada agak meninggi.

"Maksud njenenagn gimana Gus, kan baru kali ini ada kepengurusan PBNU ditolak PW NU terbesar dan mau ada pembekuan seperti parpol saja.." Kata saya.

"Ya terang saja akan terjadi penolakan kalau memang keputusan itu dibuat tanpa mengikuti aturan yang baku. Mestinya Kyai Sahal dan Kang Said kan jangan terburu-buru mengumumkan kalau memang masih ada yang musykil. Kalau perlu ya para Kyai se[uh diminta pendapatnya. Saya tahu di antara mereka-mereka itu kan saling berkelompok dan saling tidak klop. Nah, kalau soal ini tidak dicarikan jalan keluar bersama ya ujung-ujungnya akan menggunakan cara pemaksaan kehendak itu ."

"Tapi kayaknya susah Gus untuk diajak ketemu. Saya menulis dua kali menyerukan agar para Ulama sepuh berkumpul dan melakukan Tabayyun, seperti yang dulu sering njenengan lakukan. Sampai sekarang belum juga dilakukan. Gus Aqil memang janji mau mencari solusi dengan cara santri. Gak tahu apa maksudnya, Gus.."

"Maksudnya ya sama dengan kata sampean tadi, membujuk agar mereka "ruju' ilal haq", kembali kepada kebenaran, dan "ishlah". Cuma kalau yang diminta kembali dan berislah cuma sebagian, sedangkan yang lain tidak mau mengalah, kan ya repot. PBNU sekarang kan seperti saya bilang sudah mirip pasar malam, isinya macem-macem gak karu-karuan..." Kata GD memberikan penjelasan.

"Masak mBah Sahal dan Gus Aqil mengalah Gus. Kan beliau-beliau itu terpilih sebagai Rois Aam dan Ketum PBNU di Makassar, sehingga punya hak untuk menentukan dalam menyusun Pengurus?" Saya coba berdalih.

"Secara legal formal memang begitu, tetapi dalam praktek kan harus mau saling mengalah. Seperti soal rangkap jabatan Ipul itu kan harus diselesaikan dan jangan dibiarkan menjadi masalah. Juga Pak As'ad, saya tahu beliau orang baik dan sangat penting bagi NU ke depan. Tetapi kan posisi tidak harus Waketum, kalau itu memang menjadikan banyak pihak kurang sreg. Sekarang memang elit NU senengnya rebutan, sih. Apalagi kalau sudah soal posisi politik, bukan lagi bersaing diam-diam dan fair tetapi sudah terbuka dan saling menjatuhkan. Padahal saya dulu sudah sering bilang, kalau mau berpolitik ke parpol saja.." Tegas beliau.

"Sekarang lahannya mungkin makin berkurang , Gus, karena sudah makin banyak orang NU yang pinter...hehehe.."

"Kan bisa toh diatur yang baik, jsutru mestinya makin banyak yang pinter ya makin tertib. Nggak seperti ini, susah-susah dibangun oleh para Masyayikh malah NU sekarang jadi mirip barang dagangan yang ditawarkan kepada siapapun yang mau beli dengan harga tinggi. Padahal nanti ujung-ujungnya warga NU yang menjadi korbannya. Coba lihat itu Lapindo, siapa korbanyya, wong NU kabeh Kang.. Tapi apa ya PBNU mau ngurus sampai sekarang? Itu orang-orang Pauruan yang ditembaki Marinir dulu, semuanya NU. Gimana urusannya sekarang? belum lagi urusan pembunuhan para Kyai di Situbondo, Banyuwangi, Jember. Blas.. gak ada juntrungannya sampai sekarang. Itu semua mestinya tugas PBNU untuk mengklarifikasi dan menuntaskan supaya warga NU merasa punya pelindung."

"Kembali ke soal kepengurusan PBNU ini Gus, bagaimana menurut njenengan?"

"Kalau mau baik dan rukun kembali, ya dilakukan perbaikan dan penyusunan ulang. Orang-orang yang tidak punya kemampuan dan berpolitik di NU disuruh ganti saja. Kyai Sahal harus tegas, dan Kang Said juga harus tahu diri, jangan belum-belum mau membekukan. Ingat pengalamannya mengurus NU masih cethek dan dia masih belum diterima sepenuh nya oleh sebagian Kyai di Jatim dan Jateng."

"Begitu ya Gus. Semoga saja pare elit PBNU diberi hidayah oleh Allah ya Gus. Saya rada miris melihat NU kok cakar-cakaran di tingkat atasnya begini. Maturnuwun Gus, lain kali saya sowan lagi. Assalamu'alaikum, Gus.."

"Salaam.. kalu mampir lagi kita ngomongin yang lain saja kang, kalau NU gak ada habisnya, hehehe..."

"Insya Allah Gus, hehehe...." 

selengkapnya >>>

14 April 2010

WAWANCARA IMAJINER DENGAN GUS DUR (6)

Muhammad A S Hikam

(Almaghfurlah kebetulan sedang nderes (dari kata tadarrus) AlQur'an ketika siang itu saya berkunjung. Suara GD ternyata cukup merdu ketika membaca ayat-ayat suci dengan lantang, suatu hal yang saya belum pernah temui ketika beliau masih bersama. Mungkin saking khusyu'nya, sehingga beliau tidak tahu bahwa ada orang datang, sedangkan saya pun ingin ikut mendengar lantunan ayat-ayat suci dari mulut beliau. Dengan berindap-indap, saya duduk di ujung karpet bermotif bunga merah keemasan yang digelar di tepat khalwat Gus Dur. Surat yang beliau baca adalah Al -Waqi'ah, surat ke 56, yang juga kebetulan kegemaran saya sehingga saya mudah mengenalinya. Begitu sampai pada ayat terakhir, "Fasabbikh Bismi Rabbikal 'Adziim," saya lihat GD memejamkan kedua mata beliau dan air mata pun merembes keluar. Tanpa saya sadari, karena ikut terharu, saya pun memanggil nama beliau, "Gus...." Dan beliaupun menengok ke arah saya..)

"Assalamu'alaikum, Gus.." Kata saya sambil mencium tangan beliau

"Salam, Kang.. piye, waras tah... Gak tahu sampean di sini. Sudah lama tadi?"

"Lumayan Gus. Pas njenengan sampai ayat ke 75 tadi "Falaa Uqsimu bi Mawaaqi'in Nujuum" saya sampai di sini. Wah ternyata suara njenengan merdu ya Gus."

"Ah.. sampean bisa aja.. hehehe.." GD tertawa senang

"Bener kok Gus, saya kan gak pernah dengar njenengan membaca Qur'an dengan suara keras. Biasanya kan pake gaya dremimil kalau njenengan ngaos.." Saya menjelaskan

"Lha memang sekarang saya punya waktu dan suasananya di sini kan pas." Kata GD menimpali

"Saya jadi ingat Almarhum ayah dulu kalu mengaji di atas kendaraan seperti bus atau kereta. Beliau ndremimil, juga. Tahu-tahu dari Cirebon sampai Semarang, misalnya, sudah 5 Juz."

"Ya saya tahu, almaghfurlah Kyai Fatah memang punya kebiasaan para Huffadz begitu. Mereka selalu dalam kondisi nderes hapalan Qur'an dimana saja dan kapan saja. Kayak iklan Coca Cola aja.." GD menerangkan sambil tertawa.



"Tadi njenengan sempat mbrebes mili ya Gus, sesampai di ayat terakhir?" Tanya saya

"Ya saya ingat ketika masih di pondok, kalau ngaji Waqi'ahan begini, saya sama Gus Aman sukanya malah mainin santri-santri yg sedang serius. Lha wong sudah apal dan dasar anak-anak, jadi saya sama dia semaunya sendiri. Saya tadi ingat Gus Aman, Kang. Kemarin dia juga mampir." Kata GD

(Gus Amanullah dari Tambakberas, Jombang adalah paman GD, tetapi usianya sebaya, dan sahib paling akrab di antara keluarga beliau. Gus Aman sempat menjadi anggota DPR/RI, dan wafat beberapa tahun setelah beliau pensiun).

"Kalau saya Gus, asal mendengar orang ngaji Surat Waqi'ah langsung ingat almarhumah Ibu saya, karena beliau yang mengajari tiap malam Jum'at setelah Yasin, lalu Waqi'ah. Kata beliau rejeki saya nanti barokah." Kata saya

"Tradisi begitu memang sangat penting untuk dipertahankan, apapun alasannya. Karena memang Surat ini memiliki makna khas bagi para Sufi. Tapi sampean kesini kan bukan mau ngobrol soal Tasawuf, kan Kang?" Kata GD yang sudah paham apa mau saya sowan kepada beliau.

"Iya Gus, saya kok mendapat informasi yang rada musykil, tapi ini menyangkut PKB, partai di mana kita pernah membeesarkan bersama.."

"Ada apa lagi... paling ya gegeran isinya..." GD menukas

"Tapi ini gegeran dengan dimensi lain Gus. Kan setelah njenengan pergi, ternyata muncul gerakan-gerakan baru untuk merestorasi PKB milik njenengan yang dinyatakan tidak legal oleh penguasa itu."

"Walah, gitu aja kok dipikirin. Ya memang Imin kan dipakai Pemerintah untuk membuat saya tidak menguasai partai lagi. Tapi coba sampean lihat hasilnya dalam Pemilu 2009, kan berantakan, toh?! PKB menjadi ndak punya marwah, karena disetir dari luar. Pendukung PKB terutama para Kyai kampung lari semua. Lha kalau Kyai-kyai itu lari ya pengikutnya lari, Kang... Ujungnya nanti PKB hilang kok!" GD meninggi suaranya.

"Benar Gus, waktu DPR menggelar Pansus Centurygate...."

"Ya pengecut semua... ndak ada yang berani. Paling si Pendi sama Lilik saja yang berani nglawan maunya Imin.." GD memotong (Pendi adalah Effendi Choirie anggota komisi I DPR RI, Lilik adalah Ibu Lily Wahid, adik GD)

"Tapi ini yang menarik Gus. Sekarang ada gagasan mengumpulkan semua komponen yang anti-Imin, bahkan termasuk orang-orang yang sudah lepas dari PKB dan ke partai lain, mereka mau kembali membentuk semacam tandingan. Namanya PKB Gus Dur..." Saya sengaja berhenti menunggu reaksi

"Iya, terus..." Tampaknya GD rada tertarik

"Nah, saya juga dihubungi Gus, padahal saya kan sekarang sudah non partisan. Jadi komponen anti Imin ini bakal bersatu dan membuat partai alternatif. Bahkan orang yang dulu dekat Imin, seperti Lukman Edi konon juga condong ke kelompok ini. Apalagi Bu Lilik, Yenni, Ipul dan para Kyai PKNU, katanya juga sepakat membentuk sebuah partai alternatif lho Gus..." Saya mencoba menjelaskan

"Kalau cuma rasan-rasan sih ya sudah lama saya tahu. Ketidakpuasan kepada Imin dkk kan memang sudah saya bilang akan terjadi karena memang cara yang dipakai merebut kekuasaan itu ndak bener. Sudah gitu sistem hukum kita juga ndak bener karena tunduk apa kata penguasa saja. Tapi ya sudahlah, saya kan ndak ikut-ikut lagi, Kang, sudah enak di sini, kerjaannya ngaji dan mendengarkan musik dan kadang-kadang kumpul-kumpul sama para syuhada dan auliya'.."

"Tapi menurut njenengan apakah upaya begitu itu masih ada perlunya, maksud saya apakah dengan membuat PKB Gus Dur, kalau toh legal nanti, apakah bisa membuat PKB yang dulu njenengan pimpin balik lagi, Gus?" Saya coba mendesak

"Ya tergantung to Kang..." Kata beliau

"Tergantung pada apa Gus?"

"Ya pada niat dan siapa-siapa yang memegang kepemimpinan partainya. Kalau niatnya cuma kekuasaan dan yang memimpin juga sejenis Imin, cuma beda nama dan wajah, ya percuma. PKB bisa bagus dulu karena ada orang-orang yang masih jujur dan tidak mementingkan diri sendiri. Setelah Muktamar Yogya sampai Semarang itu, saya setengah mati coba menahan tekanan dari luar dan dalam, termasuk dari PBNU sendiri. Setelah pecah jadi dua, PKB dan PKNU, saya pikir sudah bisa dikontrol lagi. Ndak tahunya, ya itu tadi, kekuatan luar menggunakan orang-orang di DPP PKB untuk menjatuhkan saya, karena saya dianggap ancaman bagi penguasa. Gitu lho.." kata GD panjang lebar.

"Apakah artinya usaha menyatukan komponen lama ini ndak perlu Gus?" Kata saya minta ketegasan

"Lho ya terserah. Yang penting itu tadi lho Kang, niatnya bagaimana dan siapa yang akan menjadi pemimpinnya. Jangan-jangan kalau mereka berhasil menggantikan Imin dkk, lalu mereka gegeran dan masing-masing rebutan posisi lagi? Belum lagi gimana sikap PBNU yang baru. Kalau nanti PBNU tetap seperti sebelumnya, ya repot. Karena PBNU pasti akan mendiamkan keributan itu atau oknum-oknumnya ikut rebutan pisan...hahaha..." Saya pun ikut tertawa membayangkan hal itu.

"Rumit ya Gus?" Kata saya

"Sebenarnya ya tidak, wong gitu saja kok rumit. Yang bikin rumit itu kan ketidak mampuan kita meletakkan masalah pada tempatnya. Mana yang prioritas untuk bangsa, mana untuk partai, mana untuk diri sendiri dan kelompok. Sekarang ini kan di Indonesia campuraduk ndak karu-karuan, sampai ndak jelas mana yang urusan bangsa dan mana yang urusan rumah tangga. Akhirnya kalau ada masalah bukannya diselesaikan dengan tuntas, tapi malah mbulet dan cenderung beranak-pinak permasalahan itu. Lihat saja soal Centurygate; belum beres sudah muncul soal Susno, lalu manipulasi pajak, lalu entah apa lagi. Pokoke mbulet!" Kamipun ketawa ngakak bersama-sama..

"Inggih Gus, kalau begitu saya ya wait and see saja menyikapi perkembangan PKB, sambil ngurusi Universitas dan nulis fb." Kata saya setelah puas tertawa.

"Ya wis Kang, oh ya terimakasih ya dengan doa-doa untuk seratus hari saya. Masya Allah, di sini makin nikmat dan tenang dengan do'a-doa yang tulus itu. Saya juga terharu melihat para pendoa, bukan cuma orang NU saja tapi dari semua golongan. Alhamdulillah, para Malaikat juga memberitahu saya betapa besar ganjaran yang didapat oleh para pendoa tersebut."

"Injih Gus Insya Allah saya sampaikan, lewat fb. Pareng dulu, Gus. Assalamu'alaikum" Kata saya berpamitan dan mencium tangan GD.

"Salaam..."


selengkapnya >>>

11 April 2010

KENANGANKU DENGAN GUS DUR (23)

Muhammad A S Hikam

Malam Minggu, 13 April 2010, saya dan keluarga bersama tetangga mengadakan Yasinan dan tahlilan untuk memperingati 100 hari wafatnya Almaghfurlah Gus Dur. Sengaja saya dan isteri memilih di rumah karena melihat para tetangga yang seratus persen orang Betawi asli itu belum pernah punya akses langsung ke Gus Dur. Sehingga kalau saya ikut bergabung di acara yang sama di luar, tetangga yang ingin ngalap barokah pastilah tidak kebagian. Jadi sama dengan peringatan tujuh harinya GD dulu, kali ini juga saya buat acara bersama mereka. Alhamdulillah cukup banyak yang hadir dan mereka sangat khusyuk mendengarkan "manakib" atau riwayat perjalanan hidup singkat GD yang saya bikin sendiri. Yang paling menarik bagi para tetangga adalah bagaimana GD, yang dulu sering dikritik sebagian orang sebagai "kurang Islami," bahkan oleh Abubakar Ba'asyir disebut murtad, saat ini maqbaroh atau kuburannya didatangi ribuan orang peziarah setiap hari.. Dalam tradisi NU, seorang Kyai yang maqbarohnya diziarahi ribuan orang tiap hari dan membawa berkah kepada banyak orang di sekelilingnya, biasanya pertanda bahwa beliau itu salah satu dari para Waliyullah. Gus Dur, menurut pendapat pribadi saya, Insya Allah masuk dalam kategori tersebut.


Setelah surah yasin dibaca bersama diteruskan dengan lantunan tahlil, acara ditutup dengan doa pak Kyai sesepuh komunitas. Sambil mengikuti ritual, angan-angan saya sesekali melayang kepada kenangan masa lalu dengan Almaghfurlah. Kali ini entah kenapa, saya terkenang saat GD meminta saya ikut menjadi peserta seminar dan pelatihan yang diselenggarakan oleh salah seorang sahabat karib beliau, Ajarn Sulak Sivaraksa, di Bangkok, Thailand. Ajarn Sulak, seorang tokoh aktivis Budhis yang sangat terkenal di negeri Siam karena perjuangannya menentang kekuasaan militer dan pembela HAM, memiliki kemiripan dengan GD dalam banyak hal. Beliau seorang terpelajar (lulusan Universitas Oxford, Inggris) dan merintis gerakan demokratisasi di Thailand setelah kembali dari studi pada awal 1970an. Mirip GD juga, Ajarn (Guru) Sulak terlibat sebagai pegiat LSM-LSM yang bergerak dalam masalah advokasi dan pemberdayaan masyarakat miskin, kebebasan politik dan perlindungan HAM, baik di Thailand maupun di luar negeri. Ajarn Sulak juga mendapat berbagai ganjalan dari rezim militer Thailand, dan bahkan pernah diancam terkena vonis hukuman mati karena melakukan pidana yang disebut "Leste Majeste," atau penghinaan kepada Raja Bhumibol Adulyadej. Selain orang yang aktif dan hobi kerja keras, Ajarn Sulak juga humoris sehingga makin erat saja pergaulannya dengan Gus Dur kita. Salah satu yrade mark Ajarn Sulak adalah pakaian tradisional petani Siam yang selalu dipakainya, lengkap dengan sandal kulit (beliau pantang memakai sepatu!) untuk jalan ke mana saja di seluruh dunia!

Saya kenal beliau ketika sudah selesai ujian disertasi di Honolulu th 1995. Kebetulan Ajarn Sulak sedang mengunjungi salah satu muridnya yang menjadi mahasiswa di Universitas Hawaii (sama juga, GD pernah tilik saya sebelum saya selesai). Kendati baru ketemu secara fisik saat itu, saya langsung cocok dengan beliau, mungkin karena cerita-cerita GD tentang sang sahabat karib itu. Nah di situlah saya kemudian diundang beliau untuk bisa ikut dalam seminar dan pelatihan di Ashram beliau di Bangkok. Ketika saya kembali ke Jakarta, saya lapor ke GD soal undangan ini. GD mengatakan "Datang saja Kang, lumayan untuk cari pengalaman di komunitas Budhis. Nanti sampean akan dapat pengetahuan dan pengalaman baru di sana." Saya mencoba bertanya, kira-kira nanti bagaimana kalau tinggal di Ashram yang tentu berbeda dengan tempat lain. Almaghfurlah cuma jawab sekenanya saja :"Ya itu sampean lihat saja nanti. Pokoknya ikut saja." Maka berangkatlah saya, dengan membawa laporan kajian lapangan yang diminta oleh Ajarn Sulak Sivaraksa sebagai bahan untuk presentasi dan pelatihan nanti di Ashram.

Benar kata GD, saya mendapat pengalaman yang belum pernah saya dapat, meskipun dalam mimpi. Bayangkan, saya tinggal selama 7 hari di Ashram Budhis yang sepi dan sangat sederhana dalam akomodasi dan konsumsi. Seumur-umur saya belum pernah mandi dengan air hujan yang ditampung dalam genthong-genthong di kamar mandi, dan makan hanya nasi dan sayur (vegetarian), atau sesekali diberikan ikan asin kering (para peserta yang beragama Budha bahkan tidak menyentuh ini juga). Minum masih mending karena ada air mineral, dan kalau tidur tanpa alas kasur dan mesti berjuang melawan nyamuk (Ashram itu lokasinya di persawahan yang jauh dari pinggiran kota). Acara mulai dari pagi, sekitar jam 7.00, diawali mengheningkan cipta bagi yang non Budhis dan bagi para Budhis semadi dan beribadah. Jam 8.30 mulai seminar dengan berbagai topik, mulai dari soal pertanian alternatif (organic-based agriculture), perlindungan lingkungan, HAM, pemberdayaan masyarakat adat, gerakan anti-kekerasan yang dilandasi oleh ajaran agama (termasuk Budha), dan tukar menukar pengalaman dari para peserta. Peserta memang multi-nasional, mulai dari Irlandia sampai Indonesia di samping multi-agama (bahkan ada yang non agama juga). Ajarn Sulak sangat strict dengan aturan terutama waktu dan hebatnya adalah beliau tidak sekali pun absen dari setiap kegiatan, walaupun beliau sangat sibuk dengan segala macam kegiatan dalam dan luar negeri. Paling-paling beliau bicara sebentar lewat telepon jika memang sudah tidak bisa ditangani oleh sekretarisnya, dan itupun sangat singkat.

Sebagai orang yang baru lulus PhD dan baru pulang dari Amrik, tentu saya harus melakukan kesiapan mental dan fisik mengikuti acara seminggu di Ashram itu. Dan tentu yang paling repot bagi saya adalah menyesuaikan diri dengan soal makan dan minum. Makanya begitu selesai acara dan di antar ke Airport Donmuang Bangkok, hal yang pertama saya lakukan adalah mencari Coca Cola! Padahal selama seminggu itu, salah satu topik yang terus diulang adalah bagaimana memerangi bahaya konsumerisme yang disebarkan secara global oleh kapitalisme. Salah satunya, apalagi kalau bukan produk fast food semacam Coca Cola itu! Sesampai di Jakarta, saya pun "lapor" kepada GD mengenai pengalaman seminggu di Ahram Ajarn Sulak Sivaraksa.

"Gimana, Kang, bedanya dengan pesantren sampeyan di Plumpang.." Kata GD sambil senyum-senyum

"Wah beda Gus, lebih berat hidup di Ashram. Di pesantren walaupun tidak sering, kan masih ada makan dengan lauk ayam, apalagi kalau sedang slametan Maulid Nabi." Kata saya sambil tertawa

GD pun terpingkal-pingkal ketika saya ceritakan bahwa saya langsung minum Coke ketika sampai di Bandara Donmuang..

"Dasar, sampean gak mau nurut sama ajaran anti kapitalisme Ajarn Sulak. Memang beliau itu kadang-kadang kelewatan dalam soal anti kapitalisnye, saya juga suka kerepotan. Kan saya masih sering pakai dasi dan setelan jas, yang bagi beliau itu masuk dalam konsumerisme juga. Tapi beliau orang yang konsisten dan mau berkorban sebagai aktivis dan pemikir. Beliau memiliki kekayaan yang cukup besar karena kemampuan bisnisnya, tetapi tetap sederhana dan mau membiayai kegiatan-kegiatan dengan uang sendiri." Kata GD

"Ya Gus, tapi nanti saya jangan lagi di suruh mewakili njenengan di Ashram ya Gus.. cari yang lain saja, soalnya saya gak bisa mandi dengan air hujan begitu.. Gatal semua badan saya..." Keluh saya

"Hahaha.. rasain, kan biar tahu bagaimana konsep hidup sederhana di praktekkan oleh berbagai pihak. Yang penting sampean "lulus," karena tidak semua orang yang baru dan sudah terlalu lama hidup di Barat, tahan tinggal di Ashram yang asli seperti milik Ajarn Sulak. Ashram lain di kota-kota mungkin tidak se strict itu kalau untuk yang non Budhis." GD menjelaskan

"Lho, kalau gitu, saya ini istilahnya njenengan tes to Gus?"

"Lha gimana, kalau mau runtang-runtung sama saya pastilah harus dites dulu, tahan menderita gak. Kan nanti sama saya nggak enak juga, wong harus kesana-kemari dan kadang-kadang dihujat orang.." GDmenjelaskan dengan mimik serius.

"Waduh, Gus, saya terus terang sudah pengen pulang waktu hari ke tiga dan presentasi saya sudah selesai. Tapi saking jauhnya tempat dan gak tahu gimana mencapai Bangkok, saya ya diam saja ikut sampai selesai. Padahal, saya bener-bener gak krasan Gus.." Kami berdua tertawa terbahak-bahak..

Tentu saja saat GD dan saya ketemu Ajarn Sulak dalam kesempatan lain, soal pengalaman di Ashram yang kurang enak tidak pernah diceritakan. Hubungan saya dengan beliau sangat erat dan beberapa kali masih ketemu. Sayang sekali, ketika Ajarn beberapa kali berkunjung ke Indonesia saya sudah sibuk dengan kerja politik paska GD lengser. Saya sangat ingin "napak tilas" dan menimba ilmu serta kebijaksanaan dari Ajarn Sulak yang, seperti juga GD, seolah tak bertepi. Tentu dengan syarat tidak harus tinggal seminggu di Ashram lagi...

selengkapnya >>>