Muhammad A S Hikam
Segera menjadi jelas bahwa sebagi tradisi atau khazanah peradaban dan kebudayaan, Islam telah membuktikan diri sebagai fenomena kesejarahan manusia di dunia yang pernah mencapai kejayaannya dan meninggalkan warisan bagi kemanusiaan yang nyaris tiada taranya: ilmu pengetahuan dan teknologi, disamping ajaran-ajaran keagamaan monotheisme, etika kemanusaan dan kemasyarakatan yang menjunjung kesetaraan dan keadilan, serta seni adiluhung di berbagai belahan dunia. Kendati islam sebagai fenomena sejarah dan peradaban kemudian mengalami kemunduran, toh saat ini relevansi dan kontribusinya terhadap ummat manusia kembali diharapkan setelah dunia mengalami berbgai krisis sebagai hasil samping dari modernitas dan prosesnya, yaitu modernisasi. Khazanah Islam, semenjak akhir abad ke duapuluh, mulai mengalami kebangkitan dengan munculnya kegiatan-kegiatan pengkajian dan penelitian di seluruh belahan dunia baik yang duni oleh masyarakat Muslim ataupun non Muslim. Istilah kebangkitan Islam atau "Islamic revivalism", tidaklah secara eksklusif mengacu pada bidang politik belaka, tetapi lebih luas dan mendalam karena melingkupi semua dimensi kehidupan kemanusiaan dan terjadi pada tataran mondial.
Pada sisi lain, kebangkitan kembali Islam pun ditengarai dengan maraknya paham dan gerakan Salafi. Di kawasan Timur Tengah, salafisme berujud pada berbagai paham dan gerakan fundamentalis Islam, baik yang radikal dmaupun non radikal dalam metodologi dan metode pengembangannya. Ciri khas dari gerakan Salafi adalah hasrat untuk kembali kepada komunitas awal yang dibayangkan (imagined original community) dan berada pada garis yang diametral menentang wacana dan praksis yang dianggap bertentangan dengan pemahaman mereka. Tentu saja seperti paham dan gerakan lain, Salafisme juga berbagai-bagai dan tidak tunggal. Di negara kita, faham dan gerakan Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah mengambil ajaran-ajaran Salafi namun dalam bingkai dan pemaknaan yang berbeda dengan, katakanlah, Hizbut Tahrir atau Ikhwanul Muslimin. NU dan Muhammadiyah, misalnya, tidak memandang masalah Khilafah Islamiah atau penerapan Syariat Islam secara formal sebagai keniscayaan. Modernitas dan modernisasi pun, dalam paradigma Salafiyah NU, bukan dianggap sebagi sebuah lawan mutlak namun sebagai sebuah realitas yang harus dihadapi secara positif, bijak, dan menekankan kepada manfaat ketimbang mafsadat (kerusakan) yang diakibatkannya.
Itulah sebabnya, Almaghfurlah Gus Dur senantiasa mengingatkan dan memperjuangkan revitalisasi tradisi Islam, bukan tradisionalisme Islam. Salafiyah NU mengandung pemahaman inklusif dan kontekstual serta menggunakan rasionalitas dalam pengembangan ajaran serta kiprah kemasyarakatan. Bukan berarti bahwa kita harus mengesampingkan atau memandang enteng tradisionalisme. Tetapi "unsur-unsur irrasional yang akan menghambat fungsionalisasi tradisionalisme itu sendiri haruslah diganti dengan nilai-nilai rasional yang akan menjamin kelangsungan traddisonalisme agama itu". Lebih jauh, Gus Dur menyatakan bahwa " revitalisasi tradisionalisme... sangat diperlukan dalam betuk memasukkan unsur-unsur rasional ke dalamnya." Dengan demikan, modernitas dan juga modernisme yang marak berkembang di kalangan ummat Islam dapat bersinergi secara positif, bukan antagonistik dan saling menagasikan (mutually destructive).
Pencarian metodologi dan metode pengembangan tradisi Islam melewati Salafisme (tradisionalisme Islam) dan modernisme Islam, tampaknya bukanlah sebuah pilihan "either/or" bagi Almaghfurlah GD. Keduanya diperlukan karena keduanya juga memiliki "turath" dalam Islam. Yang penting adalah apapun yang dikembangkan harus diabadikan untuk kesejahteraan umum (maslakhah 'ammah), bukan eksklusifisme, apalagi penindasan terhadap yang lain. Kemungkinan terjadinya dialog intra dan antar peradaban dan buday, bagi GD lebih terbuka dan didukung ketimbang benturan peradaban dan budaya sebagaimana pernah diramalkan oleh Samuel Huntington. Inilah sebuah proyek pencerahan (Enlightenment Project) yang harus kita teruskan sebagai warisan dari Almaghfurlah Gus Dur. (MAS Hikam)
Sumber:
Abdurrahman Wahid, "Islam, Agama Populer atau Elitis?," dalam Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama, Masyarakat, Negara Demokrasi. Jakarta: The Wahid Institute, 2006, hal.34-7.
12 June 2010
MENGAJI DENGAN GUS DUR (3): MODERNITAS, TRADISI ISLAM, DAN TRADISIONALISME ISLAM
05 June 2010
MENGAJI DENGAN GUS DUR (2): ISLAM DAN KEKERASAN
Muhammad A S Hikam
Beberapa hari lalu kita menyaksikan ulah Pemerintah Israel yang sangat mencederai nilai-nilai HAM, yaitu menyerangan pasukan Komando AL nya terhadap para relawan kemanusiaan yang berada di Kapal Mavi Marmara di perairan Internasional dekat Gaza. Tak kurang dari 19 orang dikabarkan tewas dan puluhan terluka akibat serangan tersebut, padahal para relawan tersebut jelas bukan bermaksud melakukan serangan dan tak bersenjata. Mereka hanya berniat menembus blokade yang diberlakukan pemerintah Israel terhadap wilayah Gaza yang sudah lebih dari satu setengah tahun lamanya, sehingga warga Palestina di wilayah tersebut mengalami kekurangan supply makanan, air besrih, dan jaminan kesehatan. Walhasil, sebuah perkara ketertindasan manusia (human sufferings) yang parah sedang berlangsung, dan sudah sewajarnya bila para komunitas Internasional menginginkan adanya intervensi kemanusiaan (humanitarian interventions) dengan membuka blokade dan memberikan berbagai bantuan kemanusiaan yang diperlukan oleh rakyat Palestina.
Akibat kebiadaban tentara Israel itulah di seluruh dunia muncul kecaman, termasuk di negara-negara yang biasanya mendukung Israel tanpa reserve. Di negeri kita pun, yang jelas sekali posisinya dalam soal konflik Israel-Palestina, kemarahan publik sangat besar dan berbagai protes serta demonstrasi anti israel dan pro Palestina pun digelar hampir di selurug wilayah Republik. Kemarahan publik, khususnya ummat Islam, terhadap kebiadaban yang terjadi (dan sebelumnya), tentu sangat bisa dipahami. Bagaimanapun juga selain masalah ini selalu terkait dengan solidaritas ummat Islam (ukhuwah Islamiah), tetapi juga berkaitan dengan amanat Konstitusi kita yang menyatkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, sehingga seluruh penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.
Masalahnya adalah, apakah hujatan, kemarahan serta gagasan melakukan tindak kekerasan yang sering tampak dalam protes-protes tersebut merupakan ajaran islam dan merupakan strategi resolusi konflik yang akan efektif?. Almaghfurlah Gus Dur seringkali mengingatkan bahwa ajaran islam menolak kekerasan. Menurut beliau "satu-satunya alasan untuk menggunakan kekerasan adalah jika kaum Muslimin diusir dari tempat tinggal mereka (idza ukhrija min diyaarihim)." Bahkan dalam hal inipun, menurut beliau "masih diperdebatkan , bolehkah kaum Muslimin membunuh orang lain, jika jiwanya sendiri tidak terancam." Dengan pandangan seperti ini GD memang memosisikan diri pada tempat yang sangat bertentangan dengan sebagian kelompok dan gerakan Islam (bahkan mungkin di antara kelompok Nahdliyyin sendiri) yang mengedepankan pemakaian pendekatan kekerasan, termasuk dalam penyelesaian konflik israel-Palestina.
GD jelas menolak kekerasan dan cara-cara biadap yang dilakukan pemerintah Israel menghadapi tuntutan HAM dari warga Palestina, termasuk memiliki negara merdeka, berdaulat dan bermartabat. Namun GD juga menolak penggunaan cara-cara ekstremis termasuk teror yang dilakukan juga oleh sementara kelompok di Palestina dan kelompok radikal Islam lain. GD juga mengeritik sikap standar ganda pemerintah-pemerintah adikuasa seperti AS dan EU karena hal itu hanya akan lebih meningkatkan kemarahan ummat islam dan membuka peluang lebih besar bagi maraknya kekerasan sebagai alternatif penyelesaian melalui dialog, diplomasi, dan perundingan terus menerus.
Konsisten dengan ajaran anti kekerasan yg juga di share oleh tokoh besar seperti Mahatma Gandhi dan Martin Luther KingJr, GD menolak kelompok garis keras yang dengan mudah melakukan sweeping terhadap tempat-tempat perjudian dan penjualan minuman keras, karena hal itu sejatinya adalah tugas aparatur negara berdasarkan hukum. Jika aparat belum melakukan bukan berarti kita berhak bertindak main hakim sendiri atas nama ummat atau agama atau apapaun! Bagi GD, sikap-sikap kekerasan ini bukan muncul sendirian, tetapi juga karena didorong dan didukung oleh munculnya aturan-aturan yang berkecenderungan untuk "memberlakukan syari'ah Islamiyah secara formal." Ini bisa berupa Perda-perda dan aturan lain yang ingin menunjukkan "kuatnya semangat untuk menolak tindakan-tindakan yang bertentangan dengan syari'ah Islamiah." Padahal, menurut GD sikap menginginkan penerapan syari'ah islam secara formal jelas-jelas bertentangan dengan Konstitusi RI yang memisahkan antara negara dan agama. Selain itu tindak kekerasan melalui main hakim tidak ada tempat dalam prinsip-prinsip dasar Fiqh.
Bagi GD penyebab kecenderungan mudah memilih cara atau pendekatan kekerasan itu muncul karena ada semavam malaise psikologis di sebagian ummat, khususnya kalangan muda dan kelas menengah. Mereka ini merasa tertinggal dari ummat lain dan karenanya ingin mengejar ketertinggalan tersebut secara fisik yaitu "menggunakan kekerasan untuk mengalangi kemjuan materialistik dan duniawi." Kekerasan juga merupakan akibat dari "proses pendangkalan agama yang menghinggapi kaum muda Muslimin sendiri." Karema kebanyakan intelektual muda Islam sekarang makin jauh dari kemampuan melakukan kajian khazanah Islam klasik, maka sebagai gantinya mengkaji ajaran secara jalan pintas "kembali kepada sumber-sumber tekstual islam seperti al-Qur'an dan hadits, tanpa mempelajari berbagai penafsiran dan pendapat-pendapat hukum yang sudah berjalan berabad-abad." Ujung-ujungnya adalah pemahaman dangkal dan ketika didorong oleh kemarahan dan rasa rendah diri, lalu dengan cepat memilih alternatif kekerasan sebagai solusi.
Sumber:
"Gandhi, Islam dan kekerasan," dalam Abdurrahman Wahid.Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama, Masyarakat, Negara Demokrasi., Jakarta: The Wahid Institute, 2006, hal. 345-348
29 May 2010
MENGAJI BERSAMA GUS DUR (1): PESANTREN DAN MASA DEPAN
Pengantar:
Selain rubrik-rubrik "KENANGANKU DENGAN GUS DUR," dan "WAWANCARA IMAJINER DENGAN GUS DUR," kini rubrik MENGAJI DENGAN GUS DUR disajikan untuk para Gusdurians dan fbers umumnya. Rubrik ini dimaksudkan untuk mendiskusikan pemikiran dan gagasan Almaghfurlah Gus Dur (Karromallohu Wajhahu) yang terdapat dalam berbagai publikasi. Selamat mengaji bersama. Salam Gusdurians!
==========================
Salah satu orientasi budaya (cultural orientation) kehidupan di dunia pesantren adalah apa yang disebut Gus Dur sebagai "orientasi serba fiqih". Menurut beliau, orientasi inilah yang menyebabkan warga pesantren memiliki kemandirian yang tinggi dan, secara historis, cenderung untuk "curiga' terhadap kekuasaan. Orientasi serba fiqih inilah yang membuat komunitas pesantren memiliki etos sosial (dan politis) untuk tidak tergantung pada patronase pejabat atau penguasa. Ketika orientasi budaya ini tergerus oleh modernitas melalui berbagai jalur (masuknya birokrasi pemerintahan, terserapnya para Kyai ke dalam lembaga-lembaga politik dan pemerintahan, dsb), maka norma-norma yang menjaga "tegaknya kerangka normatif kehidupan pesantren, mulai berkurang." Dengan demikian, kata almaghfurlah, permasalahan pokok yang dihadapi pesantren adalah: dapatkah orientasi budaya serba fiqih masih dapat dipertahankan di masa depan?
Tantangan untuk melestarikan dan mengembangkan orientasi budaya pesantren ini juga sangat relevan manakala kita menganggap bahwa komunitas pesantren adalah salah satu tiang penyangga masyarakat sipil (civil society) di negeri ini. Manakala orientasi ini luntur tergilas oleh etos modernitas yang serba duniawi, instant, dan konsumeristis, maka niscaya komunitas pesantren akan kehilangan jaridirinya dan otomatis civil society di negeri ini akan terpotong salah satu tiang penyangganya. Kemampuan NU menjadi salah satu motor penggerak reformasi dan demokratisasi pada akhir abad ke 20 jelas tidak akan bisa terulang apabila orientasi budaya pesantren tersebut tiada. Menjadi tugas para pengelola pesantren, khusunya para masyayikh dan santri-santrinya serta masyarakat di luar pesantren untuk bersinergi mempertahankan etos dan orientasi budaya tersebut, disamping membuat pesantren tidak mengisolasi diri dari perkembangan kehidupan modern.
Referensi:
"Dari Masa Lalu ke Masa Depan," dalam Bisri Effendy (ed.). Abdurrahman Wahid: Tuhan Tidak perlu Dibela. Yogyakarta: LKIS, 1999, hal. 55-60.
16 May 2010
WAWANCARA IMAJINER DENGAN GUS DUR (7)
(Sayup-sayup terdengar suara dendang syair Abu Nawas ketika saya masuk ke ruang tempat Gus Dur berkhalwat. Ternyata benar, beliau sedang rengeng-rengeng melagukan syair kegemaran beliau:
Ilaahi Lastu lil Firdausi Ahla # Walaa Aqwaa 'Alan Naaril Jahiimi
Fahabli Taubatan Waghfir Dzunubi # Fainnaka Ghaafiru Dzambil 'Adziimi
Dzunubi mitslu A'dadir Rimaali # Wa Dzanbi Zaaidun Kaifakhtimaali
Wa Umrii Naaqishun fi Kulli Yaumin # Fahabli Taubatan Yaa Dzal Jalaali
(Ya Allah, aku sama sekali tak pantas menjadi penghuni syurga Firdaus, namun aku pun jelas tak akan kuat menjadi penghuni Neraka Jahim. Maka terimalah taubatku Ya Allah dan ampunilah semua dosaku, karena Engkau adalah Maha Pengampun dosa-dosa besar. Dosa-dosaku sebanyak jumlah pasir, Ya Allah, dan ia makin bertambah, lantas bagaimanakah aku dapat menanggungnya?. Ya Allah, umur kami berkurang setiap hari, maka terimalah taubat kami, wahai Dzat Yang Maha Agung!)
******
Saya menunggu sampai GD menyelesaikan bait terakhir, sebelum saya menyapa:
"Assalamu'alaikum, Gus" Ucap saya sambil bersalaman dan mencium tangan beliau
"Salaam... Eee Kang, piye waras tah sampean?" Sambut beliau seraya menyalami.
"Alhamdulillah, Gus, do'a njenengan, saya sehat-sehat saja.." Kata saya sambil duduk di hadapan beliau
"Kok sudah lama sampean gak ke sini, sibuk mengajar atau ngamen?, hehehe..." Tanya beliau sambil tertawa renyah.
"Kedua-duanya Gus, saya kebagian dua matakuliah semester kemarin. Jadi rada sibuk juga.
"Panjenegan sendiri bagaimana Gus, kok kelihatannya makin segar dan cemerlang saja, hahaha.." Saya gantian bertanya.
"Alhamdulillah, berkat doa sampean dan semua orang yang masih ingat sama saya, membuat saya makin dirahmati Allah swt."
"Wah, kalau soal ingat, Gus, sedunia ingat semua dan Insya Allah mayoritas mendoakan panjenengan, kok.."
"Amin.. kalau begitu. Ada kabar menarik apa Kang?" GD tanya sambil kakinya slonjor
"Wah ketiwasan,, Gus..!"
"Lho ketiwasan apa, sampean ini ngaget-ngageti saja.."
"Soal NU ini lho Gus, sekarang ini terjadi konflik di antara elitnya, gara-gara kepengurusan PBNU yang baru." Kata saya mencoba memberikan keterangan.
"Bukannya sudah sampean bilang ke saya, semuanya baik-baik saja?"
"Perasaan saya dulu ya begitu Gus, setelah mBah Sahal dan Gus Aqil terpilih di Makassar. Tapi ternyata malah terjadi keributan gara-gara Tim Formaturnya ada yang tidak terima dan protes. Sekarang persoalan menjalar karena Syaifullah Yusuf mengancam akan membekukan PWNU Jatim. Sayangnya Gus Aqil malah mengamini "ancaman" itu..."
"Lha itu gimana asal-usulnya kok bisa ada protes dari PWNU Jatim segala. Kang?"
"Kalau menurut berita di media dan juga majalah AULA terbitan PWNU Jatim, masalahnya bermula karena ada perbedaan antara susunan pengurus yang disepakati di rapat Tim Formatur di Kajen dengan yang diumumkan oleh mBah Sahal dan Gus Aqil di Jakarta. Gus Hasyim Muzadi dan Slamet Efendi Yusuf yang semula dipasang sebagai Wakil Rois Aam dan Waketum PBNU tidak lagi muncul namanya dalam susunan baru. Demikian juga kehadiran Pak As'at Ali sebagai Waketum PBNU tampaknya juga dipermasalahkan karena dianggap tidak memenuhi syarat yang tertuang dalam ART NU dan Keputusan Komisi Organisasi dalam Muktamar kemarin. Sudah begitu, ada masalah rangkap jabatan seperti Ipul dianggap melanggar AD/ART.."
"Ah.. Kang, kan sudah saya bilang, itu semua akan muncul kalau pemimpin tidak tegas dan hanya mikir dirinya sendiri-sendiri..." Gus Dur memotong penjelasan saya, dengan nada agak meninggi.
"Maksud njenenagn gimana Gus, kan baru kali ini ada kepengurusan PBNU ditolak PW NU terbesar dan mau ada pembekuan seperti parpol saja.." Kata saya.
"Ya terang saja akan terjadi penolakan kalau memang keputusan itu dibuat tanpa mengikuti aturan yang baku. Mestinya Kyai Sahal dan Kang Said kan jangan terburu-buru mengumumkan kalau memang masih ada yang musykil. Kalau perlu ya para Kyai se[uh diminta pendapatnya. Saya tahu di antara mereka-mereka itu kan saling berkelompok dan saling tidak klop. Nah, kalau soal ini tidak dicarikan jalan keluar bersama ya ujung-ujungnya akan menggunakan cara pemaksaan kehendak itu ."
"Tapi kayaknya susah Gus untuk diajak ketemu. Saya menulis dua kali menyerukan agar para Ulama sepuh berkumpul dan melakukan Tabayyun, seperti yang dulu sering njenengan lakukan. Sampai sekarang belum juga dilakukan. Gus Aqil memang janji mau mencari solusi dengan cara santri. Gak tahu apa maksudnya, Gus.."
"Maksudnya ya sama dengan kata sampean tadi, membujuk agar mereka "ruju' ilal haq", kembali kepada kebenaran, dan "ishlah". Cuma kalau yang diminta kembali dan berislah cuma sebagian, sedangkan yang lain tidak mau mengalah, kan ya repot. PBNU sekarang kan seperti saya bilang sudah mirip pasar malam, isinya macem-macem gak karu-karuan..." Kata GD memberikan penjelasan.
"Masak mBah Sahal dan Gus Aqil mengalah Gus. Kan beliau-beliau itu terpilih sebagai Rois Aam dan Ketum PBNU di Makassar, sehingga punya hak untuk menentukan dalam menyusun Pengurus?" Saya coba berdalih.
"Secara legal formal memang begitu, tetapi dalam praktek kan harus mau saling mengalah. Seperti soal rangkap jabatan Ipul itu kan harus diselesaikan dan jangan dibiarkan menjadi masalah. Juga Pak As'ad, saya tahu beliau orang baik dan sangat penting bagi NU ke depan. Tetapi kan posisi tidak harus Waketum, kalau itu memang menjadikan banyak pihak kurang sreg. Sekarang memang elit NU senengnya rebutan, sih. Apalagi kalau sudah soal posisi politik, bukan lagi bersaing diam-diam dan fair tetapi sudah terbuka dan saling menjatuhkan. Padahal saya dulu sudah sering bilang, kalau mau berpolitik ke parpol saja.." Tegas beliau.
"Sekarang lahannya mungkin makin berkurang , Gus, karena sudah makin banyak orang NU yang pinter...hehehe.."
"Kan bisa toh diatur yang baik, jsutru mestinya makin banyak yang pinter ya makin tertib. Nggak seperti ini, susah-susah dibangun oleh para Masyayikh malah NU sekarang jadi mirip barang dagangan yang ditawarkan kepada siapapun yang mau beli dengan harga tinggi. Padahal nanti ujung-ujungnya warga NU yang menjadi korbannya. Coba lihat itu Lapindo, siapa korbanyya, wong NU kabeh Kang.. Tapi apa ya PBNU mau ngurus sampai sekarang? Itu orang-orang Pauruan yang ditembaki Marinir dulu, semuanya NU. Gimana urusannya sekarang? belum lagi urusan pembunuhan para Kyai di Situbondo, Banyuwangi, Jember. Blas.. gak ada juntrungannya sampai sekarang. Itu semua mestinya tugas PBNU untuk mengklarifikasi dan menuntaskan supaya warga NU merasa punya pelindung."
"Kembali ke soal kepengurusan PBNU ini Gus, bagaimana menurut njenengan?"
"Kalau mau baik dan rukun kembali, ya dilakukan perbaikan dan penyusunan ulang. Orang-orang yang tidak punya kemampuan dan berpolitik di NU disuruh ganti saja. Kyai Sahal harus tegas, dan Kang Said juga harus tahu diri, jangan belum-belum mau membekukan. Ingat pengalamannya mengurus NU masih cethek dan dia masih belum diterima sepenuh nya oleh sebagian Kyai di Jatim dan Jateng."
"Begitu ya Gus. Semoga saja pare elit PBNU diberi hidayah oleh Allah ya Gus. Saya rada miris melihat NU kok cakar-cakaran di tingkat atasnya begini. Maturnuwun Gus, lain kali saya sowan lagi. Assalamu'alaikum, Gus.."
"Salaam.. kalu mampir lagi kita ngomongin yang lain saja kang, kalau NU gak ada habisnya, hehehe..."
"Insya Allah Gus, hehehe...."